
ilustrasi : pengukuran tinggi badan
Bunda, pagi ini saya dapat pesan WA dari kader
posyandu di kampung yang menginfokan bahwa esok hari akan diadakan kegiatan
penimbangan rutin (posyandu). Seketika timbul kekhawatiran bagaimana kalau
berat badan anak saya bulan ini tidak naik lagi? Bagaimana kalau tinggi
badannya juga tidak bertambah? Terngiang-ngiang ditelinga perkataan tetangga
bahkan saudara membanding-bandingkan anak saya dengan anak-anak lain seusianya.
Anaknya umur berapa bunda? Kok kecil ya takutnya stunting lho? Padahal makannya banyak kok gak gemuk ya? anaknya
doyan susu nggak bund? itu lhoo cobain pake susu merk ‘ini’ dan masih banyak
lagi perkataan lainnya. Rasanya sedih ya Bunda mengingat
kita sudah berusaha semaksimal mungkin sebagai orangtua apalagi sebagai seorang
ibu yang tentunya menginginkan semua yang terbaik untuk anak-anak kita.
Bukannya tidak memberikan anak makan dengan gizi yang cukup, tetapi terkadang
mendapati anak yang susah makan, pilih-pilih makanan, terlebih anak balita
seringkali terkena batuk pilek, belum lagi drama tumbuh gigi yang membuatnya
tidak berselera makan.
Namun, jangan mudah menyerah ya Bunda! Banyak cara tentunya supaya anak kita mau makan. Dari baca-baca artikel seputar kesehatan anak sampai browsing sana-sini buat nemuin berbagai resep makanan yang selain menarik juga bergizi agar anak mau makan sehingga diharapkan setiap bulan berat badan anak bertambah yang diikuti dengan pertambahan tinggi badannya. Apalagi akhir-akhir ini banyak dibahas masalah stunting pada anak. Sampai-sampai ada yang berjanji akan membagikan susu gratis untuk mencegah stunting. Benarkah susu bisa mencegah stunting? Dalam artikel ini akan dibahas mengenai apa itu stunting? Faktor penyebab dan cara pencegahannya. Yuk bunda kita pelajari bersama....
Pengertian Stunting
Menurut WHO (2015), pengertian stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar. Kemudian menurut WHO (2020), stunting adalah pendek atau sangat pendek berdasarkan panjang/ tinggi badan menurut usia yang kurang dari -2 standar deviasi (SD) pada kurva pertumbuhan WHO yang terjadi dikarenakan kondisi irreversibel akibat asupan nutrisi yang tidak adekuat dan/ atau infeksi berulang/ kronis yang terjadi dalam 1000 HPK. Sehingga secara umum, stunting dapat didefinisikan sebagai gangguan pertumbuhan pada anak yang disebabkan oleh masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang.
Stunting merupakan salah satu penyebab tinggi badan anak terhambat, sehingga tinggi badannya lebih rendah dibandingkan anak-anak seusianya. Seringkali masyarakat beranggapan bahwa kondisi tubuh pendek merupakan faktor genetik dan tidak ada kaitannya dengan masalah kesehatan. Memang benar bahwa 80% tinggi anak dipengaruhi tinggi kedua orangtuanya (dengan catatan ortu tidak ada riwayat gangguan gizi). Menurut sebuah artikel yang ditulis oleh Kevin Martinez, M.D. pada halaman Medical News Today tanggal 09 November 2020 menyebutkan bahwa faktor utama yang memengaruhi tinggi seseorang adalah susunan genetiknya. Namun, banyak faktor lain yang mempengaruhi tinggi badan selama perkembangan, termasuk nutrisi, hormon, tingkat aktivitas dan kondisi medis. Padahal seperti diketahui, faktor genetik merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya apabila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan. Sehingga bisa dikatakan bahwa stunting sebenarnya merupakan masalah yang bisa dicegah.
Dikutip dari laman instagram DR. dr. Tan Shot Yen, M.hum., kondisi anak yang terkena stunting dapat dilihat dari grafik tumbuh kembang anak pada buku KIA yaitu pada grafik BB menurut usia dan grafik TB menurut usia yang menentukan kriteria seorang anak stunting atau tidak. Grafik BB menurut TB menunjukkan status gizi anak. Bisa jadi tinggi bagus tapi berat badan kurang. Dari jurnal yang diterbitkan oleh ASN (American Society For Nutrition), protein hewani berkontribusi terhadap tinggi badan anak. Tidak masalah mau bersumber dari susu atau bukan susu. Jadi penting sekali buat melihat grafik TB menurut usia karena ini patokan stunting tidaknya seorang anak. Disebut stunting apabila sudah di kurva merah ke bawah menuju hitam. Grafik BB menurut usia juga penting, menandakan bagaimana asupan gizi jangka pendek. Sedangkan grafik TB menurut usia itu cermin asupan gizi jangka panjang. Stunting bukanlah hasil anak tidak makan dadakan, bukan juga karena keturunan. Stunting itu harus ada riwayat gangguan gizi di 1000 Hari Pertama Kehidupan anak. Mulai dari dalam kandungan ibu, hingga anak berusia 2 tahun. Apabila BB tidak naik berbulan-bulan, TB bisa terkena imbas dan disitulah awal stunting.
Apakah Anak Gemuk Bisa Stunting?
Jawabannya: Ya. Mal Nutrisi tidak identik dengan tubuh kurus mata cekung. Mal nutrisi adalah kondisi gizi salah. Perlu diingat bahwa BB hanya indikator status gizi jangka pendek. Tapi, status gizi jangka panjang yang beresiko stunting dilihat dari panjang (tinggi) badan. BB tidak naik sebulan, tidak menyebabkan stunting asalkan ibunya mau belajar kenapa, kemudian dicari sebabnya. Belum tentu dari MPASI karena MPASI yang benar bukan sekedar membuat anaknya asal mangap, tetapi juga anak belajar perilaku makan, menyukai makanannya kemudian menjadi kebiasaan yang akan dibawa sampai dia dewasa.
Apakah semua balita pendek itu pasti stunting?
Anak yang stunting pasti pendek, tetapi tidak semua balita pendek itu stunting, sehingga perlu dibedakan oleh dokter anak.
Mengapa stunting menjadi sesuatu yang penting untuk diatasi?
Menurut Kementerian Kesehatan, stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas masyarakat Indonesia dikarenakan kondisi stunting tidak hanya mengganggu pertumbuhan fisik, anak-anak juga akan mengalami gangguan perkembangan otak yang akan memengaruhi kemampuan dan prestasi mereka. Selain itu, anak yang menderita stunting akan memiliki riwayat kesehatan yang tidak baik karena daya tahan tubuh yang juga tidak baik.
Dampak kesehatan anak penderita stunting :
1. Gagal tumbuh (berat lahir rendah, kecil, pendek, kurus), hambatan perkembangan kognitif dan motorik.
2. Gangguan metabolik pada saat dewasa, seperti resiko penyakit tidak menular (diabetes, obesitas, stroke, penyakit jantung, dsb).
Faktor penyebab Stunting
Beberapa faktor penyebab yang mendasari terjadinya stunting, yaitu :
1. Asupan kalori yang tidak adekuat
a. Kemiskinan (Faktor sosio-ekonomi)
b. Pendidikan dan pengetahuan yang rendah mengenai praktek pemberian makan untuk bayi dan batita (kecukupan ASI)
c. Peranan protein hewani dalam MPASI
d. Penelantaran
e. Pengaruh budaya
f. Ketersediaan bahan makanan setempat
2. Kebutuhan yang meningkat
a. Penyakit jantung bawaan
b. Alergi susu sapi
c. Berat badan bayi lahir sangat rendah
d. Kelainan metabolisme bawaan
e. Infeksi kronik yang disebabkan kebersihan individu dan lingkungan yang buruk seperti diare kronis, dan penyakit-penyakit yang dapat dicegah oleh imunisasi seperti TBC, difteri, pertussis, dan campak.
Apakah stunting dapat dicegah?
Jawabannya : Stunting dapat dicegah.
Berikut beberapa tips untuk mencegah stunting :
1. Saat Remaja Putri
Skrining anemia dan konsumsi tablet tambah darah.
2. Saat Masa Kehamilan
Disarankan untuk rutin memeriksakan kondisi kehamilan ke dokter. Perlu juga memenuhi asupan nutrisi yang baik selama kehamilan yaitu dengan makanan sehat dan juga asupan mineral seperti zat besi, asam folat, dan yodium harus tercukupi.
3. Balita
a. Terapkan Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
Segera lakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) sesaat setelah bayi lahir agar berhasil menjalankan ASI Eksklusif. Lakukan pemeriksaan ke DSA atau ke Posyandu dan Puskesmas secara berkala untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak.
b. Imunisasi
Berikan imunisasi rutin sesuai jadwal yang diterapkan oleh Pemerintah agar anak terlindungi dari berbagai macam penyakit.
c. ASI Eksklusif
Berikan ASI Eksklusif pada anak sampai berusia 6 (enam) bulan dan diteruskan dengan MPASI yang sehat dan bergizi.
d. Pemantauan tumbuh kembang (weight faltering)
Faltering growth atau weight faltering adalah kondisi ketika kenaikan berat badan bayi tidak sesuai dengan standar berat badan bayi sehat pada umumnya. Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai hal, mulai dari pemberian ASI eksklusif yang tidak tepat, gangguan hormon, hingga kelainan genetik. Jika dibiarkan, weight faltering dapat meningkatkan resiko stunting atau gagal tumbuh pada anak.
4. Gaya Hidup Bersih dan Sehat
Biasakan pola hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan sebelum makan, pastikan air yang diminum merupakan air bersih, buang air besar di jamban, sanitasi sehat, dan lain sebagainya.
Bagaimana alurnya apabila menemukan kasus masalah gizi agar dapat mencegah stunting?
1. Surveilans gizi dan penemuan serta penanganan kasus (Posyandu atau Puskesmas).
2. Pelayanan sekunder atau tersier, memiliki Sp.A atau Sp.AK (gizi, tumbuh kembang) pada klinik khusus tumbuh kembang.
Dari beberapa penjelasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa tinggi badan seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor genetiknya, tetapi juga dipengaruhi oleh nutrisi, hormon, tingkat aktivitas dan kondisi medis. Faktor genetik merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan. Dalam asupan makannya, protein hewani berkontribusi terhadap tinggi badan anak. Tidak masalah mau bersumber dari susu atau bukan susu. Beri makan anak dengan gizi seimbang. Stunting bukanlah hasil anak tidak makan dadakan, bukan juga karena keturunan. Stunting itu harus ada riwayat gangguan gizi di 1000 Hari Pertama Kehidupan anak. Mulai dari dalam kandungan ibu hingga anak berusia 2 tahun. Apabila BB tidak naik berbulan-bulan, TB bisa terkena imbas dan disitulah awal stunting. Jadi Bunda, jangan cepat khawatir ketika anak kita BBnya tidak naik bulan ini. Segera cari tahu penyebabnya sehingga bisa segera diatasi agar anak kita dapat tumbuh dengan sehat. Selalu semangat untuk kesehatan anak-anak kita ya Bundaa ..!
Referensi :
https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1388/mengenal-apa-itu-stunting
https://p2ptm.kemkes.go.id/tag/cegah-stunting-dengan-perbaikan-pola-makan-pola-asuh-dan-sanitasi
https://www.instagram.com/drtanshotyen?igsh=YzljYTk1ODg3Zg==
